Punggur menahan
Iba di rasa
Temui cipta yang ada pada beta
Hidup ini sangat terasa
Ketika sukma bersembilu hingga mair jadinya
Kau ini menyerupai madah
Tapi sayangnya amat tak bisa ku rasa
Apa kau tau apa penyebabnya?
Itu karena, padanan kata indah yang telah kau sibak
Sirna, tanpa ada sedikit celah tersisa
Sudahlah, pergi saja kau sana...
Aku disini baik-baik saja
_____
Puisi ini telah saya posting di FB :)
BAHASA WANITA
Kamis, 02 Juni 2011
Pala Berpayung Duri
Aku pala berpayung duri
Asa merengkuh
telusuri tanah tempatku berdiri
Asa mengucur
telusuri tiap lekukan pala berdahan
lagi kokoh
Ia sirami lagi sinari
Tanpa peduli siapa aku ini
Padahal, dulu aku sempat mati dan bimbang
dihutan mana ku kan berdiri
Kumematung tiada arti
Hanya berharap secercah jelujur sinar-Nya
Menutup legamnya aku
Meski aku berpayung duri
Tapi rahmat-Nya senantiasa menghujani
dan membasahi relung hati
Asa merengkuh
telusuri tanah tempatku berdiri
Asa mengucur
telusuri tiap lekukan pala berdahan
lagi kokoh
Ia sirami lagi sinari
Tanpa peduli siapa aku ini
Padahal, dulu aku sempat mati dan bimbang
dihutan mana ku kan berdiri
Kumematung tiada arti
Hanya berharap secercah jelujur sinar-Nya
Menutup legamnya aku
Meski aku berpayung duri
Tapi rahmat-Nya senantiasa menghujani
dan membasahi relung hati
Senin, 18 April 2011
Luka
Secarik kertas penuh dengan luka
Selalu menganga dalam gundukan kata
Membisu seluruh raga
Mata menuduh, menghujam yang terlihat darinya
Senandung malam sama sekali tidak terdengar
Karena hanya jeritan makna yang terdengar darinya
Ketika kupejamkan dua buah bola mata
Sungguh kelopak pun tidak bisa jauh dari luka
Dia selalu ada, nampak
Bagaimana tidak,
gundukan kata telah mengalahkantingginya cemara
Sungguh, tidak akan kupaksa jika kata itu menjadi tiada
Karena makna akan selalu terkunci mati
dalam raga
Bisa saja ia rapuh
Tapi tidak
Karena akar dan tonggkak itu telah lama kujadikan sandaran
Sejak aku mengenal kata luka
Entahlah,,,
luka mana yg harus ku teriakan
Bisa jadi itu luka ketika jauh dari cinta Tuhan
Selalu menganga dalam gundukan kata
Membisu seluruh raga
Mata menuduh, menghujam yang terlihat darinya
Senandung malam sama sekali tidak terdengar
Karena hanya jeritan makna yang terdengar darinya
Ketika kupejamkan dua buah bola mata
Sungguh kelopak pun tidak bisa jauh dari luka
Dia selalu ada, nampak
Bagaimana tidak,
gundukan kata telah mengalahkantingginya cemara
Sungguh, tidak akan kupaksa jika kata itu menjadi tiada
Karena makna akan selalu terkunci mati
dalam raga
Bisa saja ia rapuh
Tapi tidak
Karena akar dan tonggkak itu telah lama kujadikan sandaran
Sejak aku mengenal kata luka
Entahlah,,,
luka mana yg harus ku teriakan
Bisa jadi itu luka ketika jauh dari cinta Tuhan
Minggu, 17 April 2011
Penantian Sang Rona
Ku tatap rona wajah yang jauh dari luka
Sungguh indah...
Dengan anggunnya dia menunggu hari kesempurnaannya tiba
Sang Cahya
satu-satunya yang dapat memberikannya nyawa dan rasa
Entah mengapa
Tapi itulah yang tampak dari wajahnya
Aku pun dapat merasakan kesetiaan yang nyata
Sungguh indah...
Ku tatap hingga tak berkedip
Dan u yakin seluruh mata berpihak padaku
Hanya yang layu yang akan membuatnya menjadi semu
Sungguh indah...
Meski waktu yang menjadi pemisah
Antara aku dan keduanya
Tapi ku tahu bahwa keduanya tetap ada
Meskipun kami ada dalam daratan yang berbeda
Itulah renungku
Jika ku tatap rona wajah yang ayu
Pada hari akhir,
tuk mencapai kesempurnaan di hari ke-14 untuknya
Sungguh indah...
Dengan anggunnya dia menunggu hari kesempurnaannya tiba
Sang Cahya
satu-satunya yang dapat memberikannya nyawa dan rasa
Entah mengapa
Tapi itulah yang tampak dari wajahnya
Aku pun dapat merasakan kesetiaan yang nyata
Sungguh indah...
Ku tatap hingga tak berkedip
Dan u yakin seluruh mata berpihak padaku
Hanya yang layu yang akan membuatnya menjadi semu
Sungguh indah...
Meski waktu yang menjadi pemisah
Antara aku dan keduanya
Tapi ku tahu bahwa keduanya tetap ada
Meskipun kami ada dalam daratan yang berbeda
Itulah renungku
Jika ku tatap rona wajah yang ayu
Pada hari akhir,
tuk mencapai kesempurnaan di hari ke-14 untuknya
Aku . Semu . Abadi
Ku berkaca dibalik pelangi
Ku temui semu belaka
Ku menari di atas mimpi
Tuk temui cita dan cinta
Ku temui semu belaka
Apa daya?
Tapi tidak,
jika ku semaikan tentang Kau Maha Tinggi
Maka, ku dapati hanya satu yang akan abadi
Ku berlari
Ku menjerit dalam hati
Hingaa hampa, merkah dan mewangi
Dan hanya inilah yang bisa kulakukan hingga saat ini
Ku temui semu belaka
Ku menari di atas mimpi
Tuk temui cita dan cinta
Ku temui semu belaka
Apa daya?
Tapi tidak,
jika ku semaikan tentang Kau Maha Tinggi
Maka, ku dapati hanya satu yang akan abadi
Ku berlari
Ku menjerit dalam hati
Hingaa hampa, merkah dan mewangi
Langganan:
Postingan (Atom)