Secarik kertas penuh dengan luka
Selalu menganga dalam gundukan kata
Membisu seluruh raga
Mata menuduh, menghujam yang terlihat darinya
Senandung malam sama sekali tidak terdengar
Karena hanya jeritan makna yang terdengar darinya
Ketika kupejamkan dua buah bola mata
Sungguh kelopak pun tidak bisa jauh dari luka
Dia selalu ada, nampak
Bagaimana tidak,
gundukan kata telah mengalahkantingginya cemara
Sungguh, tidak akan kupaksa jika kata itu menjadi tiada
Karena makna akan selalu terkunci mati
dalam raga
Bisa saja ia rapuh
Tapi tidak
Karena akar dan tonggkak itu telah lama kujadikan sandaran
Sejak aku mengenal kata luka
Entahlah,,,
luka mana yg harus ku teriakan
Bisa jadi itu luka ketika jauh dari cinta Tuhan
Senin, 18 April 2011
Minggu, 17 April 2011
Penantian Sang Rona
Ku tatap rona wajah yang jauh dari luka
Sungguh indah...
Dengan anggunnya dia menunggu hari kesempurnaannya tiba
Sang Cahya
satu-satunya yang dapat memberikannya nyawa dan rasa
Entah mengapa
Tapi itulah yang tampak dari wajahnya
Aku pun dapat merasakan kesetiaan yang nyata
Sungguh indah...
Ku tatap hingga tak berkedip
Dan u yakin seluruh mata berpihak padaku
Hanya yang layu yang akan membuatnya menjadi semu
Sungguh indah...
Meski waktu yang menjadi pemisah
Antara aku dan keduanya
Tapi ku tahu bahwa keduanya tetap ada
Meskipun kami ada dalam daratan yang berbeda
Itulah renungku
Jika ku tatap rona wajah yang ayu
Pada hari akhir,
tuk mencapai kesempurnaan di hari ke-14 untuknya
Sungguh indah...
Dengan anggunnya dia menunggu hari kesempurnaannya tiba
Sang Cahya
satu-satunya yang dapat memberikannya nyawa dan rasa
Entah mengapa
Tapi itulah yang tampak dari wajahnya
Aku pun dapat merasakan kesetiaan yang nyata
Sungguh indah...
Ku tatap hingga tak berkedip
Dan u yakin seluruh mata berpihak padaku
Hanya yang layu yang akan membuatnya menjadi semu
Sungguh indah...
Meski waktu yang menjadi pemisah
Antara aku dan keduanya
Tapi ku tahu bahwa keduanya tetap ada
Meskipun kami ada dalam daratan yang berbeda
Itulah renungku
Jika ku tatap rona wajah yang ayu
Pada hari akhir,
tuk mencapai kesempurnaan di hari ke-14 untuknya
Aku . Semu . Abadi
Ku berkaca dibalik pelangi
Ku temui semu belaka
Ku menari di atas mimpi
Tuk temui cita dan cinta
Ku temui semu belaka
Apa daya?
Tapi tidak,
jika ku semaikan tentang Kau Maha Tinggi
Maka, ku dapati hanya satu yang akan abadi
Ku berlari
Ku menjerit dalam hati
Hingaa hampa, merkah dan mewangi
Dan hanya inilah yang bisa kulakukan hingga saat ini
Ku temui semu belaka
Ku menari di atas mimpi
Tuk temui cita dan cinta
Ku temui semu belaka
Apa daya?
Tapi tidak,
jika ku semaikan tentang Kau Maha Tinggi
Maka, ku dapati hanya satu yang akan abadi
Ku berlari
Ku menjerit dalam hati
Hingaa hampa, merkah dan mewangi
Bersamamu aku mati
Bisakah kau terpaku
Layaknya pohon dengan seribu sembilu
Bisakah kau membisu
Layaknya mata kanan dan mata kirimu
Bisakah kau acuh
Layaknya badai menerpa tanpa peduli
Hutan jiwamu telah kau ganti
Pelangi diburukmu telah kau pupus
Dan akhirnya ku tunggu keinginanku
Tentang Cinta yang ku punya kan kembali
seutuhnya bersamaku
Jika "tidak” adalah yang kau mau
Maka,
Layaknya pohon dengan seribu sembilu
Bisakah kau membisu
Layaknya mata kanan dan mata kirimu
Bisakah kau acuh
Layaknya badai menerpa tanpa peduli
Hutan jiwamu telah kau ganti
Pelangi diburukmu telah kau pupus
Dan akhirnya ku tunggu keinginanku
Tentang Cinta yang ku punya kan kembali
seutuhnya bersamaku
Jika "tidak” adalah yang kau mau
Maka,
Cinta yang kau dapati akan musnah bersamaku
Karena,
Mendarat di indahnya pengasingan
Mengirimkan cinta bersama awan dan mentari
Tanpa kau yang menemani
Itulah keinginanku saat ini
Semoga kau mengerti
Karena,
Mendarat di indahnya pengasingan
Mengirimkan cinta bersama awan dan mentari
Tanpa kau yang menemani
Itulah keinginanku saat ini
Semoga kau mengerti
Sabtu, 16 April 2011
Tanyaku
Dosakah aku?
Jika ku patahkan kuntum yg sedang bersemi, ayu nan mewangi
Dosakah aku?
Jika ku harus mengukir kuntum itu,
hingga tambah merekah dan abadi bersamuku meskipun aku tak akan pernah menyatu
hingga tambah merekah dan abadi bersamuku meskipun aku tak akan pernah menyatu
Dosakah aku?
Jika membiarkannya merekah dan bersemi hingga layu dan mati sendiri
Ataukah…
Engkau yang akan mengubahku layaknya seperti kuntum
Hingga aku dapat dapat bersamanya mengarungi indahnya hari
Hingga hanya bersemi dan menwangi yang akan mengiringi
Itulah tanya ku
Karena aku hanyalah layaknya seorang duri
Ku Gantungkan Sembiluku Di Pintu-Mu
Tergerak hingga membisu
Terpedaya hingga mengadu
Terbuai hingga menyentak
Tersakiti hingga mengiba
Membenci dan
Mengasihi hingga tidak ada bedanya
Sebuah catatan kaki terukir dalam pekatnya hati
Lirih, berbisik beradu dengan kenyataan
Sirnanya keimanan ada dalam kesenangan
Jiwa pun bergemuruh
Menjerit karena ulah kesenangan
Tidak ada yang mendengar
Tidak ada satupun yang terdengar
Tidak ada yang menyentak
Tidak ada satupun yang tersentak
Karena ini hanyalah sebuah dialog
Rahasia antara diriku dan Kekasihku
Terpedaya hingga mengadu
Terbuai hingga menyentak
Tersakiti hingga mengiba
Membenci dan
Mengasihi hingga tidak ada bedanya
Sebuah catatan kaki terukir dalam pekatnya hati
Lirih, berbisik beradu dengan kenyataan
Sirnanya keimanan ada dalam kesenangan
Jiwa pun bergemuruh
Menjerit karena ulah kesenangan
Tidak ada yang mendengar
Tidak ada satupun yang terdengar
Tidak ada yang menyentak
Tidak ada satupun yang tersentak
Karena ini hanyalah sebuah dialog
Rahasia antara diriku dan Kekasihku
Karena hanya Dia yang tau dan mengerti
Dan Dialah yang akan mengasihiku
Dalam renungku selalu bergumam
“Ridwan, bukakanlah pintu itu untukku
Dan mintakanlah pada-Nya untukku”
“Ridwan, bukakanlah pintu itu untukku
Dan mintakanlah pada-Nya untukku”
Terlalu hina jika aku selalu meminta dan tidak pernah berkaca
Wahai Engkau Pengabul doa, kepada siapa lagi ku meminta
Karena dalam sumpahku hanya ada Engkau Yang Maha Segalanya
Langganan:
Postingan (Atom)

